Ekonomi & Bisnis Papua Barat
Beranda / Papua Barat / Kontras Ekonomi Papua Barat dan Papua Barat Daya: Agustus 2026 Catat Deflasi di Manokwari, Sorong Justru Inflasi Tipis

Kontras Ekonomi Papua Barat dan Papua Barat Daya: Agustus 2026 Catat Deflasi di Manokwari, Sorong Justru Inflasi Tipis

MANOKWARI, JENDELABERITA.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat merilis data resmi statistik yang memotret kontras dinamika ekonomi antara Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua Barat Daya pada awal September 2026. Perbedaan arah laju inflasi hingga performa sektor perdagangan menjadi sorotan utama dalam laporan bulanan tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis pada 1 September 2026, Provinsi Papua Barat secara kumulatif bulanan (month-to-month) mengalami deflasi sedalam 1,19 persen. Tekanan deflasi ini paling dirasakan di Kabupaten Manokwari yang tercatat mengalami deflasi sebesar 1,19 persen, disumbang utamanya oleh penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau seperti ikan tuna, tomat, dan cabai rawit. Kendati demikian, secara tahunan (y-on-y) wilayah ini masih mencatatkan inflasi di angka 5,27 persen.

Sebaliknya, pemandangan berbeda terlihat di tetangga muda mereka, Provinsi Papua Barat Daya. Wilayah ini justru bergerak berlawanan arah dengan mencatatkan inflasi m-to-m sebesar 0,10 persen. Kota Sorong menjadi wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi mencapai 0,15 persen, sementara Kabupaten Sorong Selatan mengalami deflasi terdalam di angka 0,34 persen.

Selain membedah pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK), BPS juga melaporkan fluktuasi Nilai Tukar Petani (NTP). NTP Papua Barat pada Agustus 2026 terkoreksi 1,60 persen ke level 101,55. Sebaliknya, NTP Papua Barat Daya menunjukkan tren positif dengan naik 1,64 persen berada di level 97,76.

Pemprov Papua Barat Dorong Pemekaran DOB dan Evaluasi Tata Kelola Pemerintahan Secara Paralel

Dari sektor perdagangan luar negeri sepanjang Januari hingga Juli 2026, neraca perdagangan kedua wilayah terpantau masih berada di zona surplus. Papua Barat membukukan surplus kumulatif sebesar US$1.441,99 juta, sementara Papua Barat Daya mencatatkan surplus sebesar US$7,48 juta, meski di tengah tren koreksi nilai ekspor akibat penurunan kinerja sektor industri pengolahan di masing-masing daerah.

Geliat sektor pariwisata turut memberikan angin segar melalui peningkatan kunjungan Wisatawan Nusantara (Wisnus). Tercatat jumlah perjalanan wisnus dengan tujuan Papua Barat pada Juli 2026 naik 1,34 persen, dengan lonjakan tertinggi dicatatkan Kabupaten Kaimana sebesar 40,64 persen. Sementara itu, kunjungan ke Papua Barat Daya tumbuh 4,11 persen dengan Kabupaten Tambrauw menorehkan peningkatan tertinggi mencapai 18,24 persen.(JB-01)