MANOKWARI, JENDELABERITA.com — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Barat secara resmi menggelar kegiatan Papedanomics Tahun 2026 di Kantor BI Papua Barat. Forum strategis ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, Setian, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang hadir dan berkolaborasi. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Pemerintah Provinsi Papua Barat, perwakilan Universitas Papua (Unipa), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua Barat, serta seluruh pemerintah kabupaten dan kota se-Papua Barat.
“Kegiatan ini menjadi bukti sinergi dan kontribusi kita bersama dalam menginisiasi berbagai langkah terobosan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi di Papua Barat,” ujar Setian.

Pihaknya juga memberikan penghargaan khusus kepada Ekonom Senior, Mirza Adityaswara, yang hadir untuk memberikan perspektif inspiratif dalam perumusan kebijakan makroekonomi, guna memperkuat sinergi pemikiran antara pemerintah pusat dan daerah dalam merespons isu-isu pembangunan.
Dalam sambutannya, Setian memaparkan bahwa perekonomian Papua Barat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sepanjang tahun 2025, ekonomi Papua Barat tercatat tumbuh sebesar 6,46 persen, meningkat dari 4,94 persen pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.
Kendati demikian, BI mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap struktur penopang ekonomi daerah. Sekitar 53 persen pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh sektor bisnis Liquefied Natural Gas (LNG) di Teluk Bintuni.
“Sehingga jika ada kondisi, apa namanya, energi yang kebutuhan energi di dunia ini terdampak bisnisnya, maka berdampak terhadap perekonomian kita itu 50 persen. Artinya, sangat signifikan sekali,” tegas Setian.
Ia menambahkan, bisnis energi berskala besar tersebut membutuhkan modal luar biasa yang digerakkan oleh pemain besar, sehingga belum sepenuhnya menyentuh sektor ekonomi mikro dan kecil secara langsung. Oleh karena itu, kegiatan seperti Papedanomics sangat penting untuk merumuskan langkah riil yang sesuai dengan karakteristik ekonomi lokal.
Di tengah tren positif tersebut, inflasi di Papua Barat tetap terjaga dengan baik pada level 2,59 persen year-on-year. Stabilitas ini menjadi modal kuat yang harus dipertahankan bersama.
Untuk memperluas sumber pertumbuhan dan mengurangi ketergantungan pasokan dari daerah lain, Papedanomics 2026 menekankan strategi peningkatan nilai tambah melalui pengolahan komoditas unggulan daerah. Setian menyoroti realitas arus logistik di mana kapal-kapal kargo yang datang ke Papua Barat seringkali kembali dalam kondisi kosong atau hanya membawa bahan mentah (raw materials).
“Salah satu langkah strategis yang perlu kita lakukan adalah mendorong peningkatan nilai tambah melalui pengolahan komoditas unggulan daerah yang tidak hanya berhenti pada pengiriman bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” paparnya.
Melalui Papedanomics 2026 yang berpuncak pada seminar nasional ini, Bank Indonesia berharap para pemangku kepentingan, akademisi, dan pelaku ekonomi dapat terus memperkuat kolaborasi.
Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan ide-ide inovatif dalam pengembangan sektor komoditas potensial daerah, mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, serta menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi Papua Barat agar kedepannya kapal-kapal yang datang ke daerah juga membawa hasil olahan produk lokal sebagai oleh-oleh bagi daerah lain.
“Mari kita terus bersatu menjaga persatuan dan kesatuan kita di tengah berbagai persoalan bangsa dan negara saat ini, sebagai modal dasar kita untuk membangun daerah kita sebagai bagian dari kita membangun bangsa dan negara kita Indonesia tercinta,” pungkas Setian sekaligus menutup sambutannya. (Jb-01)
